Penggerebekan Penampungan Tenaga Kerja di Tiban, Polisi: Tidak Ada Penyekapan

  • Whatsapp
penampungan TKI
Amelia (19), tenaga kerja asal Jakarta merasa ditipu penyalur di Batam

Batamline.com, Batam – Pihak kepolisian membantah terjadinya penyekapan di lokasi tempat tinggal atau penampungan para pekerja lokal di salah satu ruko di Tiban Point Kecamatan Sekupang, Selasa (6/4/2021) sore.

Menurut Kapolresta Barelang, Kombes Pol Yos Guntur melalui Kasat Reskrim Polresta Barelang, Kompol Andri Kurniawan, lokasi tersebut merupakan tempat tinggal tenaga kerja lokal atau pekerja di Batam milik penyalur, PT Hadi Jaya.

Bacaan Lainnya

“Setelah dilakukan pengecekan, perizinan perusahaan tersebut lengkap,” kata Andri saat ditemui di Polresta Barelang.

Andri menyebutkan, pihaknya datang ke lokasi setelah mendapat informasi dilakukan penggerebekan oleh pihak TNI dan masyarakat yang mengetahui informasi lebih awal.

Dari informasi awal yang didapat, lokasi tersebut digunakan sebagai tempat penampungan TKI dan diduga ilegal. Bahkan informasinya, para tenaga kerja yang di tampung di tempat itu juga disekap. Sehingga, polisi merespon laporan tersebut.

Namun setelah datang ke lokasi, tidak ditemukan adanya penyekapan. Bahkan, lokasi itu bukanlah tempat penampungan tenaga kerja yang akan dikirim ke luar negeri atau (TKI), melainkan untuk para pekerja lokal.

“Tidak ada penyekapan. Mereka (para tenaga kerja) bebas memegang hp dan keluar, bahkan di bawahnya juga ada kantin,” ujarnya.

Baca: Beli Rumah Demi Pacar, Kisah Cinta WNA Jepang Tewas Tergantung Berujung Tragis di Batam

Meski demikian, pihaknya yang datang ke lokasi pada Selasa (6/4/2021) siang, tetap melakukan penyelidikan. Sebanyak 39 orang tenaga kerja dibawa ke Mapolresta untuk dimintai keterangan.

“Kita sedang ambil keterangan saksi-saksi. Nanti akan kita informasikan lebih lanjut,” jelasnya.

Amelia, salah seorang tenaga kerja yang diamankan juga menyebut tidak ada penyekapan selama ia berada di lokasi tersebut.

Namun gadis 19 tahun itu mengaku jika pelaporan tersebut berawal saat ia bercerita kepada saudaranya yang ada di Batam jika, ia hendak kembali ke kampung halamannya, Jakarta namun harus membayar Rp4 juta sebagai biaya ganti transportasi.

“Saya awalnya dijanjikan kerja di PT (salah satu perusahaan yang ada di Batam), tapi sampai di sini saya dipekerjakan di toko,” keluhnya.

Baca: Kemenag Keluarkan Surat Edaran Soal Ramadan 2021, Panduan Pelaksanaan Ibadah Hingga Bukber

Tak hanya itu, Amelia yang direkrut bersama kakak sepupunya, Purningsih (23) dari Jakarta juga meminta agar ditempatkan di tempat kerja yang sama. “Tapi kami ditempatkan di tempat kerja yang berbeda,” sebutnya.

Karena tidak betah, Amlia meminta untuk dipulangkan ke daerah asalnya. Namun oleh PT Hadi Jaya, Amelia diwajibkan untuk membayar Rp4 juta sebagai biaya ganti transportasi Jakarta-Batam dan makan Amelia selama di Batam.

“Selama di Batam, kami digaji Rp2.100.000,” sebutnya.

Hingga berita ini diturunkan, polisi masih meminta keterangan para saksi untuk pemeriksaan lebih lanjut. “Gak ada disekap. Selama di sini cuma makan tahu tempe, kami bosan,” ujarnya. (mka)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *