Terkait Dugaan Korupsi Perjalanan Dinas DPRD Batam, Raja Syamsul Mengaku Atas Suruhan Marzuki

Dugaan korupsi perjalanan dinas DPRD Batam
Aji Satrio Prakoso bersama Jaksa Penuntut Umum Dedy Simatupang

Batamline.com, Batam – Sidang dugaan korupsi dana perjalanan dinas DPRD Kota Batam pada tahun 2016, dengan terdakwa Raja Syamsul Bahri (45), mantan Bendahara Sekretaris Dewan (Sekwan) DPRD Batam masih bergulir di Pengadilan Negeri Batam.

Kasi Pidsus Kejari Batam, Aji Satrio Prakoso mengatakan, kasus dugaan korupsi tersebut juga menyeret nama Sekwan DPRD Kota Batam yang menjabat pada masa itu, Marzuki.

Read More

“Untuk mantan Ketua Sekwan DPRD Batam Marzuki masih kami (Jaksa) menunggu dari pihak penyidik Polresta Barelang,” kata Aji Satrio, Rabu (24/1/2024).

Dalam sidang pemeriksaan saksi, kata Aji Satrio, terdakwa Raja Syamsul Bahri membantah semua keterangan kesaksian Marzuki yang sudah memberikan keterangan sebelumnya di persidangan Pengadilan Tipikor.

“Dari keterangan terdakwa Raja Syamsul Bahri, masalah uang itu atas perintah dari Marzuki (mantan Sekwan Batam), dan uang itu juga kebanyakan diperuntukkan untuk Marzuki,” ujarnya.

Dia menjelaskan, Raja Syamsul Bahri tidak menyerahkan dan membayarkan dana yang diajukan oleh Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) sesuai dengan nominal yang tertuang pada nota pencairan dana. Mereka hanya membayarkan uang makan dan representasi kepada PPTK

“Sedangkan untuk uang penginapan dan transportasi tidak saya bayarkan kepada PPTK karena uangnya pergunakan untuk membayarkan hutang dan tagihan Sekretaris Dewan pada tahun 2015 atas perintah Marzuki,” Aji Satrio Prakoso menirukan keterangan terdakwa Raja Syamsul Bahari.

Terpisah, Kapolresta Barelang melalui Kasat Reskrim Polresta Barelang mengatakan, terkait kasus dugaan korupsi kasus perjalanan dinas DPRD Kota Batam tersebut, penyidikan masih berjalan. Polisi baru menetapkan satu orang tersangka yakni, Raja Syamsul Bahri.

Dan, soal dugaan keterlibatan Marzuki, penyidik masih mengumpulkan bukti-bukti. “Masih berjalan dan saat ini kita masih menunggu,” katanya singkat.

Sebelumnya, awal dari perkara ini merupakan hasil  temuan Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) atas laporan dari salah satu agen perjalanan. Agen itu mengaku ada tunggakan pembayaran perjalanan dinas pada Januari 2016 hingga Mei 2016, dari pemesanan tiket serta hotel dengan nilai sebesar Rp600 jutaan.

Diketahui, tindak pidana korupsi yang dilakukan Raja Syamsul Bahri diduga bekerjasama dengan Marzuki, mantan Sekwan Kota Batam. Dari total kerugian negara Rp1,6 miliar, Marzuki sudah melakukan pembayaran secara cicil dan sisa Rp150 juta lagi.

Dalam perkara ini terdakwa Raja Syamsul dijerat dengan pasal 2 atau pasal 3 Jo pasal 18 UU nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi, dengan ancaman penjara 20 tahun. (jim)

Related posts