Batamline.com, Batam – Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau dan sebaran abu vulkanik mulai berdampak terhadap penerbangan dari dan menuju Batam. Sebanyak 21 penerbangan rute Batam-Jakarta dan sebaliknya di Bandara Internasional Hang Nadim Batam dibatalkan pada Minggu (6/9/2026).
Pembatalan tersebut terdiri atas 10 penerbangan kedatangan dan 11 penerbangan keberangkatan. Kondisi di sekitar Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, menjadi salah satu faktor yang berdampak terhadap operasional penerbangan rute tersebut.
Pengelola Bandara Hang Nadim langsung meningkatkan pemantauan dan berkoordinasi dengan maskapai serta seluruh pemangku kepentingan penerbangan untuk memastikan kondisi penerbangan tetap aman.
Direktur Operasi PT Bandara Internasional Batam Hang Nadim, Anton Marthalius, menegaskan bahwa keselamatan menjadi pertimbangan utama dalam menentukan keberlangsungan penerbangan.
“Keselamatan penerbangan, penumpang, pesawat, dan seluruh personel bandara merupakan prioritas utama dalam setiap keputusan operasional,” ujar Anton, Minggu (6/9/2026).
Pada hari yang sama, Bandara Hang Nadim sebenarnya merencanakan 70 penerbangan domestik dan internasional dengan total sekitar 8.802 penumpang.
Setelah adanya dampak terhadap sejumlah penerbangan, sebanyak 49 penerbangan lainnya tetap beroperasi dengan total sekitar 6.283 penumpang.
Penerbangan yang masih berjalan antara lain menuju Kuala Lumpur, Kualanamu, Pekanbaru, Pontianak, Padang, Palembang, Semarang, Surabaya, hingga Ranai.
Anton mengatakan pihak bandara tidak menutup kemungkinan melakukan penyesuaian operasional apabila kondisi udara dinilai tidak aman akibat sebaran abu vulkanik.
Penyesuaian tersebut dapat berupa penundaan, pengalihan, hingga pembatalan penerbangan.
“Dasar kita melakukan penundaan atau pembatalan adalah safety. Semua keputusan dilakukan berdasarkan hasil asesmen dan ketentuan keselamatan penerbangan,” katanya.
Untuk mengantisipasi perkembangan kondisi tersebut, Bandara Hang Nadim melakukan koordinasi dengan Kementerian Perhubungan, BMKG, AirNav Indonesia, maskapai, perusahaan ground handling, serta stakeholder penerbangan lainnya.
Koordinasi juga dilakukan bersama sejumlah maskapai, di antaranya Garuda Indonesia dan Lion Group, untuk melakukan mitigasi terhadap dampak sebaran abu vulkanik.
Dari maskapai yang terdampak, Citilink tercatat memiliki delapan penerbangan dengan sekitar 880 penumpang. Garuda Indonesia sebanyak enam penerbangan dengan sekitar 654 penumpang.
Selanjutnya, Super Air Jet mencatat empat penerbangan terdampak dengan sekitar 584 penumpang, sedangkan Batik Air sebanyak tiga penerbangan dengan sekitar 401 penumpang.
Di tengah pembatalan dan keterlambatan tersebut, pengelola Bandara Hang Nadim memastikan penumpang tetap mendapatkan pelayanan.
Penumpang yang telah berada di ruang tunggu dan mengalami keterlambatan mendapatkan service recovery, termasuk pemberian air mineral pada tahap awal.
“Untuk penumpang, kami melakukan service recovery bagi yang sudah berada di ruang tunggu. Kami juga berkoordinasi dengan seluruh stakeholder, maskapai, ground handling, maupun AirNav untuk melakukan mitigasi dan mencari alternatif lainnya,” jelas Anton.
Pihak bandara juga telah menggelar rapat operasional dan menyiagakan petugas di area keberangkatan maupun kedatangan. Petugas tersebut bertugas memberikan informasi sekaligus membantu penumpang yang terdampak perubahan jadwal penerbangan.
Anton meminta calon penumpang tidak terburu-buru datang ke bandara sebelum mendapatkan kepastian mengenai status penerbangannya.
“Jangan datang ke bandara sebelum mendapat kepastian mengenai situasi penerbangan. Kalau sudah mendapatkan informasi penerbangan dibatalkan, tidak perlu datang ke bandara dan dapat memantau informasi melalui website maupun kanal resmi maskapai,” ujarnya.
Bandara Hang Nadim akan terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dan pergerakan sebaran abu vulkanik yang berpotensi memengaruhi lalu lintas penerbangan.
“Keputusan penyesuaian operasional semata-mata dilakukan untuk menjamin keselamatan penerbangan,” pungkasnya. (Bob)