Home » Terungkap Fakta Ritual Darah dan Kekerasan Saat Rekontruksi Pembunuhan Dwi Putri di Batam

Terungkap Fakta Ritual Darah dan Kekerasan Saat Rekontruksi Pembunuhan Dwi Putri di Batam

Saat rekontruksi terungkap fakta bagai mana pelaku melakukan aksinya dalam rekontruksi

by Gara
0 comments

Batamline.com, Batam – Rekonstruksi pembunuhan Dwi Putri Aprilian Dini (25) di Batuampar bukan hanya mengulang adegan tragis yang merenggut nyawa korban.

Proses tersebut justru membuka tabir gelap dugaan praktik ritual menyimpang di balik manajemen agency LC yang dioperasikan Wilson dan rekan-rekannya.

Fakta-fakta mengejutkan itu mencuat saat sejumlah mantan pekerja dan saksi hadir menyaksikan langsung rekonstruksi di rumah lokasi kejadian, Perumahan Jodoh Permai, Kecamatan Batuampar, Kamis (15/1).

Mereka mengungkap pengalaman kelam selama berada di bawah manajemen agency tersebut, termasuk kewajiban mengikuti ritual yang dinilai tidak manusiawi.

Salah satu pengakuan datang dari RD (22), mantan pekerja di MK Manajemen. Ia mengaku hanya bertahan sekitar satu bulan sebelum memilih kabur karena tidak kuat menghadapi suasana kerja dan perlakuan pimpinan.

Menurut RD, setiap calon pekerja LC diwajibkan menjalani ritual aneh sebelum resmi ditempatkan bekerja di tempat hiburan malam.

“Ritual itu memang ada. Pakai darah dari sayatan tangan, dicekoki obat dan minuman, sampai mandi kembang. Itu keharusan buat calon LC,” ungkap RD.

Ia menegaskan, ritual tersebut dilakukan di rumah manajemen dan bersifat wajib, terutama bagi para pekerja baru. Meski dirinya bekerja sebagai pengawal, bukan LC, RD mengaku menyaksikan langsung praktik ritual itu.

“Saya bukan LC, saya pengawal. Tapi semua itu saya lihat sendiri. Banyak hal yang tidak masuk akal dan caranya merendahkan manusia,” ujarnya.

Tak hanya ritual, RD juga menggambarkan kepemimpinan Wilson yang disebutnya arogan dan kerap melakukan kekerasan fisik. Kesalahan kecil saja, kata RD, bisa berujung pada pemukulan.

“Kalau gaji sebenarnya tidak masalah. Tapi arogannya itu. Salah sedikit bisa langsung ditonjok,” katanya.

RD akhirnya memilih keluar dengan cara meminta ibunya menghubungi pihak manajemen. “Saya suruh mama telepon, bilang mama sakit supaya saya bisa pulang. Setelah itu saya kabur dan tidak pernah kembali,” tuturnya.

Kesaksian serupa disampaikan seorang perempuan yang kini berada dalam pendampingan tim kuasa hukum Hotman Paris 911. Ia menyebut ritual tersebut sebagai bentuk ‘hukuman’ atau ‘penundukan’, terutama bagi calon LC yang dianggap membangkang.

“Entah apa efeknya, saya juga tidak tahu. Tapi itu ritual yang memang harus dijalani anak baru,” ucapnya.

Menurut saksi, belasan LC berada di bawah manajemen Wilson cs. Sebagian dari mereka kini menjadi saksi kunci dalam kasus kematian Dwi Putri Aprilian Dini. Kesaksian ini dinilai krusial untuk membongkar praktik internal agency yang selama ini tertutup rapat.

Para saksi berharap aparat penegak hukum tidak hanya fokus pada kasus pembunuhan, tetapi juga menelusuri dugaan ritual dan kekerasan sistematis yang terjadi di dalam manajemen agency tersebut.

“Perbuatan mereka ke korban itu tidak manusiawi. Hukuman harus berat,” tegas RD.

Kuasa hukum korban dari Hotman Paris 911, Maya Rumanti, menegaskan pihaknya akan terus mengawal kasus ini hingga tuntas. Ia berharap seluruh fakta, termasuk dugaan ritual menyimpang dan praktik kekerasan, dapat terungkap di persidangan.

“Kami ingin semua pelaku dihukum seberat-beratnya sesuai dengan perbuatannya,” ujarnya. (*)

Sumber: Batampos.com

You may also like

Leave a Comment