Batamline.com, Batam – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat di Kepulauan Riau (Kepri) untuk meningkatkan kewaspadaan menyusul sebaran asap yang terpantau meluas di wilayah provinsi tersebut.
Imbauan terutama ditujukan kepada pengguna jalan. Asap yang mengurangi jarak pandang berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas sehingga pengendara diminta mengurangi kecepatan dan lebih berhati-hati.
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Hang Nadim Batam, Rayi P. Anggraeni, mengatakan pantauan citra pada Senin (14/9/2026) pagi menunjukkan sebaran asap telah terpantau di seluruh wilayah Kepri.
“Sebaran asap bergerak ke arah Barat Laut–Utara. Arah angin di Kepulauan Riau bertiup dari arah Tenggara ke Barat Laut,” ujar Rayi dalam keterangan resminya, Senin.
BMKG mengingatkan jarak pandang dapat berkurang akibat asap, terutama ketika konsentrasi asap meningkat. Kondisi tersebut perlu diantisipasi pengguna jalan dengan menyesuaikan kecepatan kendaraan dan meningkatkan kewaspadaan.
“Jarak pandang yang terbatas akibat asap pekat dapat meningkatkan risiko kecelakaan. Perkuat kewaspadaan dan kurangi kecepatan berkendara,” demikian imbauan BMKG.
Selain berdampak terhadap aktivitas transportasi, kondisi udara di Batam juga menjadi perhatian. Berdasarkan data IQAir yang dicantumkan dalam laporan tersebut, indeks kualitas udara (AQI) Batam berada di angka 110 pada pukul 07.00 WIB, dengan konsentrasi PM2.5 sebesar 39,4 mikrogram per meter kubik.
Angka tersebut berada dalam kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif. Indeks kualitas udara juga diproyeksikan meningkat hingga 113 pada siang hari.
BMKG mengimbau masyarakat membatasi aktivitas di luar ruangan selama kondisi asap masih terjadi. Warga juga dianjurkan menggunakan masker dan memperbanyak konsumsi air putih.
Masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan diminta segera mendapatkan pertolongan medis.
Sebaran asap di Kepri disebut berkaitan dengan pergerakan asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari sejumlah wilayah di Sumatra dan Kalimantan.
Kondisi tersebut turut diperparah dengan adanya bekas kebakaran lahan seluas sekitar 20 hingga 35 hektare di kawasan Trans Barelang yang terjadi beberapa waktu lalu.