Home » Data Center AI Bisa Picu Gangguan Listrik, Batam Jadi Wilayah dengan Kapasitas Terbesar Kedua

Data Center AI Bisa Picu Gangguan Listrik, Batam Jadi Wilayah dengan Kapasitas Terbesar Kedua

by Redaksi
Data center

Batamline.com, Batam – Pesatnya pembangunan pusat data atau data center untuk mendukung kecerdasan buatan (AI) membawa tantangan baru bagi keandalan jaringan listrik. Selain membutuhkan energi dalam jumlah besar, perubahan konsumsi daya secara mendadak juga berpotensi mengganggu kestabilan sistem kelistrikan.

Risiko tersebut bukan sekadar perkiraan. Di Amerika Serikat (AS), gangguan yang melibatkan puluhan pusat data pernah menyebabkan hilangnya beban listrik hingga 1.500 megawatt (MW) dari jaringan dalam waktu bersamaan.

Sementara di Indonesia, kebutuhan listrik untuk pusat data diproyeksikan meningkat tajam. Batam menjadi salah satu wilayah yang perlu mendapat perhatian karena menempati posisi kedua secara nasional, baik dari jumlah pusat data maupun kapasitas terpasangnya setelah Jakarta.

Gangguan listrik bukan hanya soal konsumsi besar

Pusat data AI membutuhkan daya listrik untuk menjalankan server, memproses informasi, serta melatih model kecerdasan buatan. Besarnya kebutuhan energi membuat pembangunan fasilitas ini semakin masif di berbagai negara.

Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan satu pusat data AI pada umumnya menggunakan listrik setara dengan kebutuhan sekitar 100.000 rumah tangga. Pusat data AI terbesar yang sedang dibangun bahkan diperkirakan membutuhkan daya hingga 20 kali lipat dari angka tersebut.

Pada 2024, konsumsi listrik seluruh pusat data di dunia mencapai sekitar 415 terawatt jam (TWh), setara 1,5 persen konsumsi listrik global. Angka itu diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 945 TWh pada 2030, sedikit melampaui konsumsi listrik Jepang saat ini.

Di Amerika Serikat, pusat data diperkirakan menyumbang hampir separuh pertumbuhan permintaan listrik hingga 2030.

Namun, persoalan bagi jaringan listrik tidak hanya muncul ketika pusat data menyerap energi dalam jumlah besar. Perubahan konsumsi daya secara mendadak, termasuk ketika banyak pusat data terputus dari jaringan secara bersamaan, juga dapat menimbulkan gangguan.

North American Electric Reliability Corporation (NERC), lembaga yang mengawasi keandalan sistem listrik di Amerika Utara, telah memasukkan risiko yang berkaitan dengan pusat data AI dalam penilaian kestabilan jaringan listrik.

Sebanyak 60 pusat data terputus bersamaan

Salah satu kejadian yang menjadi perhatian terjadi di Northern Virginia, Amerika Serikat, pada 10 Juli 2024. Wilayah yang dikenal sebagai Data Center Alley itu menampung lebih dari 200 pusat data milik berbagai perusahaan teknologi, termasuk Microsoft, Google, dan Amazon.

Gangguan bermula ketika perangkat pelindung petir pada jalur transmisi listrik setempat mengalami kerusakan. Akibatnya, tegangan listrik turun enam kali dalam rentang 82 detik.

Pusat data di kawasan tersebut dirancang untuk beralih ke sistem daya cadangan ketika mendeteksi gangguan tegangan. Respons itu membuat sekitar 60 pusat data terputus dari jaringan listrik secara bersamaan.

Total beban listrik yang hilang mencapai sekitar 1.500 MW. Operator jaringan harus menangani kondisi tersebut agar gangguan tidak berkembang menjadi pemadaman yang lebih luas. Sekitar 1.260 MW dari beban yang terputus baru kembali tersambung beberapa jam kemudian.

John Moura, Director of Reliability Assessment and System Analysis NERC, menyoroti tantangan yang muncul seiring membesarnya kapasitas pusat data.

“Ketika data center makin besar dan mengonsumsi lebih banyak energi, jaringan listrik tidak dirancang untuk menahan hilangnya data center berkapasitas 1.500 megawatt,” kata Moura.

Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa terputusnya beban listrik dalam jumlah besar secara tiba-tiba dapat menjadi tantangan bagi operator jaringan. Meski demikian, kejadian itu tidak berarti seluruh kota mengalami pemadaman total akibat pusat data.

Konsumsi listrik AI bisa naik-turun dalam hitungan menit

Risiko lainnya muncul saat pusat data digunakan untuk melatih model AI. Pada tahap ini, kebutuhan daya komputasi dapat berubah dengan cepat mengikuti beban kerja pemrosesan.

Menurut penilaian NERC, konsumsi listrik sebuah pusat data ketika menjalankan pelatihan AI dapat turun dari lebih dari 400 MW menjadi sekitar 40 MW. Dalam hitungan menit, konsumsi tersebut bisa kembali meningkat sebelum turun lagi.

Perubahan yang tajam ini menjadi tantangan ketika operator jaringan tidak memperoleh informasi yang memadai mengenai perubahan beban pusat data.

Dalam kondisi tertentu, perubahan konsumsi listrik yang cepat dapat mengganggu keseimbangan antara daya yang diproduksi pembangkit dan daya yang digunakan pelanggan. Jika tidak ditangani dengan baik, gangguan dapat merambat dan memengaruhi kestabilan jaringan.

Karena itu, pemantauan beban, koordinasi antara operator pusat data dan pengelola jaringan, serta kemampuan sistem merespons perubahan mendadak menjadi faktor penting dalam menjaga keandalan pasokan listrik.

Kapasitas pusat data Indonesia diproyeksikan mencapai 3,5 GW

Indonesia juga menghadapi peningkatan kebutuhan energi seiring bertambahnya pembangunan pusat data.

PLN memproyeksikan kapasitas komputasi pusat data di Indonesia meningkat dari sekitar 580 MW pada 2026 menjadi sekitar 3,5 gigawatt (GW) pada 2030. Sementara itu, kebutuhan daya dari pusat data yang telah masuk dalam daftar rencana hingga 2034 disebut berpotensi mencapai sekitar 25 GW.

Hingga Oktober 2026, Data Center Map mencatat terdapat 204 pusat data di Indonesia. Sebanyak 107 unit berada di Jakarta, sedangkan Batam menempati urutan kedua dengan 20 unit.

Kota-kota lainnya memiliki jumlah yang lebih sedikit, antara lain Surabaya dengan sembilan pusat data, Denpasar delapan unit, Bandung tujuh unit, dan Bekasi enam unit.

Dari sisi kapasitas, pusat data yang beroperasi di Jakarta tercatat memiliki daya sekitar 322 MW atau 55 persen dari kapasitas terpasang nasional. Batam berada di posisi berikutnya dengan kapasitas sekitar 126 MW.

Dominasi kedua wilayah tersebut juga terlihat dalam rencana pembangunan fasilitas baru. Kapasitas pusat data yang direncanakan di Jakarta mencapai sekitar 1,7 GW, sedangkan di Batam sekitar 1,4 GW.

Besarnya kapasitas yang direncanakan itu menunjukkan bahwa kebutuhan infrastruktur kelistrikan akan menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung pertumbuhan industri pusat data di kedua wilayah.

Antisipasi diperlukan sebelum gangguan terjadi

Hingga saat ini, belum ada laporan insiden serupa di Indonesia yang menunjukkan pusat data menyebabkan pemadaman listrik satu kota secara total.

Namun, pertumbuhan kapasitas pusat data membuat perencanaan kelistrikan perlu memperhitungkan bukan hanya besarnya kebutuhan energi, melainkan juga perubahan beban secara mendadak dan kemungkinan terputusnya fasilitas berkapasitas besar dari jaringan.

Bagi Batam, yang menjadi salah satu pusat pertumbuhan industri pusat data di Indonesia, koordinasi antara pengelola fasilitas, penyedia listrik, dan operator jaringan menjadi bagian penting dari upaya menjaga keandalan pasokan.

Dengan kebutuhan daya yang diproyeksikan terus meningkat, kesiapan jaringan dan pengelolaan beban menjadi krusial agar ekspansi industri digital tidak menambah risiko terhadap kestabilan sistem kelistrikan.

Sumber: kompas.com

You may also like