Batamline.com, Batam – Di antara lumpur yang mengendap dan rumah-rumah yang masih basah oleh banjir, puluhan masyarakat Minang Kabau di sejumlah wilayah terdampak bencana alam di Sumatera Barat terlihat menyambut rombongan kecil yang datang bukan dengan kamera, tetapi dengan tangan yang membawa harapan.
Mereka adalah para jurnalis televisi yang tergabung dalam Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Pusat dan Korwil IJTI Sumatera.
Biasanya, para jurnalis ini dikenal sebagai sosok yang berlari mengejar gambar, mengabadikan peristiwa, dan menyampaikan kabar kepada publik. Namun kali ini, mereka datang untuk tujuan yang berbeda, membantu warga yang tengah berjuang bangkit dari bencana banjir.
Sejak pagi, deretan paket bantuan diturunkan satu per satu dari kendaraan. Beras, minyak goreng, mi instan, air mineral, selimut, hingga perlengkapan bayi. Barang-barang itu kemudian didistribusikan melalui posko-posko yang dikoordinasikan bersama aparat setempat.
Di sejumlah titik, warga tampak mengantre sambil mengucap terima kasih, sementara para jurnalis memastikan bantuan mencapai tangan yang tepat.
Ketua IJTI Pusat, Herik Kurniawan, mengatakan bahwa langkah kemanusiaan ini lahir dari rasa tanggung jawab moral para jurnalis terhadap masyarakat yang selama ini menjadi sumber berita mereka.
“IJTI tidak hanya hadir untuk meliput peristiwa, tetapi juga terpanggil membantu secara langsung saudara-saudara kita yang terdampak banjir. Kami berharap bantuan ini dapat meringankan beban warga di Sumatera Barat,” ujar Herik di sela kegiatan.
Baginya, empati dan aksi nyata adalah nilai yang tak bisa dipisahkan dari profesi jurnalis. Ia menyebut respon cepat pengurus dan anggota IJTI di daerah sebagai bukti bahwa solidaritas jurnalis televisi tetap hidup di tengah tekanan industri media.
“Kolaborasi ini menunjukkan bahwa jurnalis televisi tidak hanya bekerja di balik kamera, tetapi juga bergerak bersama masyarakat,” tambahnya.
Dari sisi korwil, Ketua IJTI Sumatera, Gusti Yennosa, atau yang akrab disapa Oca, mengungkapkan gambaran situasi di lapangan yang ia lihat sendiri. Menurutnya, kerusakan rumah, terhambatnya aktivitas ekonomi, hingga kebutuhan dasar yang belum terpenuhi masih menjadi persoalan besar bagi warga.
“Kami melihat langsung kondisi
di lapangan. Banyak warga yang masih sangat membutuhkan bantuan, terutama kebutuhan dasar. IJTI Sumatera berupaya hadir dan memastikan bantuan benar-benar sampai kepada warga yang membutuhkan,” kata Oca.
Ia menekankan bahwa profesi jurnalis selalu bersinggungan dengan masyarakat, sehingga ketika bencana datang, mereka pun merasa terpanggil untuk turun tangan.
“Jurnalis bukan hanya pencatat peristiwa, tetapi juga bagian dari masyarakat. Ketika warga tertimpa bencana, sudah seharusnya kami ikut bergerak membantu,” ujarnya.
Selain membantu warga, IJTI juga menyempatkan diri menyalurkan bantuan kepada rekan seprofesi yang ikut terdampak banjir. Bantuan berupa bahan pokok dan uang tunai diberikan sebagai bentuk dukungan moral dan solidaritas antarjurnalis.
IJTI Pusat dan Korwil IJTI Sumatera memastikan mereka akan terus memantau perkembangan kondisi di daerah banjir dan membuka peluang penyaluran bantuan lanjutan apabila masyarakat masih membutuhkan.
Di tengah derasnya arus informasi dan tekanan pekerjaan, langkah kecil para jurnalis ini mengingatkan bahwa kemanusiaan selalu berada di atas profesi. Bahwa sebelum menjadi penyampai berita, mereka adalah manusia yang melihat, merasakan, dan memilih untuk peduli.