“SPPG akan beroperasi ketika anggaran dari APBN sudah masuk ke virtual account. Selama dana belum masuk, operasional tidak diperbolehkan, termasuk menggunakan dana talangan dari mitra,” jelasnya.
Ia menyebut penghentian operasional sementara terjadi di sejumlah wilayah di Batam, meliputi 15 dari 21 SPPG di Kecamatan Batam Kota, 12 dari 32 SPPG di Sagulung, tujuh dari 18 SPPG di Batuaji, tujuh dari 15 SPPG di Sei Beduk, enam dari delapan SPPG di Lubuk Baja, enam dari 13 SPPG di Bengkong, satu dari empat SPPG di Batuampar, serta satu SPPG di Belakangpadang.
Sementara itu, operasional di wilayah hinterland seperti Kecamatan Galang dan Bulang, menurutnya, masih berjalan normal dengan masing-masing satu SPPG. Adapun kondisi di Sekupang dan Nongsa masih dalam proses pendataan.
Defri mengatakan pihaknya memperoleh informasi bahwa tim keuangan BGN bersama Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) tengah melakukan proses pengisian ulang dana ke rekening virtual SPPG. Jika dana telah masuk, distribusi makanan diperkirakan kembali berjalan pada keesokan harinya.
Dilansir dari iNews Batam, Di tingkat provinsi, Kepala Regional SPPG Kepulauan Riau, Anindita Ayu, menyebut sebanyak 96 SPPG di Kepulauan Riau menghentikan operasional sementara akibat belum cairnya dana operasional dari BGN.
“Ada 96 SPPG di Kepri yang berhenti operasional sementara karena belum mendapatkan pencairan dana di VA,” kata Anindita.
Dari jumlah tersebut, Kota Batam menjadi daerah dengan dampak terbesar dengan 73 titik SPPG yang berhenti beroperasi. Selanjutnya Kabupaten Karimun sebanyak 17 titik, Kota Tanjungpinang dua titik, Kabupaten Lingga dua titik, serta masing-masing satu titik di Kabupaten Bintan dan Natuna.
Meski demikian, Anindita mengatakan proses pencairan dana mulai berlangsung pada Senin dan sejumlah SPPG telah menerima dana operasional.