Home » Si Amru, Mobil Polisi yang Menjemput Mimpi Anak-anak Tanjungsengkuang Batam

Si Amru, Mobil Polisi yang Menjemput Mimpi Anak-anak Tanjungsengkuang Batam

by Redaksi
program si amru batam

foto: Sejumlah siswa menggunakan mobil pelayanan masyarakat “Si Amru” di kawasan Tanjungsengkuang, Batam. Program tersebut bertujuan membantu mengantar pelajar pulang dengan aman sekaligus mempererat kedekatan polisi dengan masyarakat

Batamline.com, Batam – Terik matahari siang itu menyelimuti halaman SD Negeri 002 Tanjungsengkuang, Kecamatan Batuampar, Kota Batam. Di depan gerbang sekolah, beberapa murid berdiri berjejer bersama seorang guru. Mata mereka sesekali menatap ke ujung jalan, menunggu sesuatu yang membuat mereka tak sabar pulang, Jumat (19/6/2026).

Tak lama kemudian, sebuah mobil berwarna abu-abu tua dengan lampu rotator di bagian atap memasuki area sekolah. Seketika suasana berubah riuh.

“Yee… mobilnya sudah datang. Ayo naik, Pak Polisi sudah datang,” teriak beberapa siswa dengan wajah berbinar.

Mobil itu bukan kendaraan antar-jemput sekolah biasa. Kendaraan tersebut adalah mobil milik Unit Binmas Polsek Batuampar yang kini dialihfungsi untuk program Si Amru (Siap Antar Murid Sampai Rumah).

Program yang digagas Polsek Batuampar itu lahir dari kepedulian terhadap keselamatan anak-anak yang setiap hari harus berjalan kaki menyusuri jalan-jalan padat kendaraan di kawasan Tanjungsengkuang.

Sebelum kendaraan berangkat, petugas kepolisian terlebih dahulu mencocokkan data siswa yang akan dijemput dengan pihak sekolah. Setelah semuanya sesuai, anak-anak bersiap naik ke dalam mobil dan memulai perjalanan pulang.

Pintu geser kendaraan dibuka lebar. Anak-anak pun berebut naik agar bisa duduk paling dekat dengan anggota Bhabinkamtibmas yang bertugas menjaga mereka.

Bagi murid, perjalanan itu bukan sekadar perjalanan menuju rumah. Kehadiran polisi menciptakan suasana akrab dan penuh kehangatan. Di dalam mobil tersebut, ada rasa aman, cerita, tawa, dan perhatian yang mungkin akan mereka kenang hingga dewasa.

Berawal dari Pemandangan Sepulang Bertugas

Kapolsek Batuampar, Kompol Amru Abdullah, mengaku program itu lahir tanpa perencanaan panjang.

Suatu hari, sepulang dari kegiatan bersama warga di Tanjungsengkuang, ia melihat sekelompok anak SD berjalan kaki pulang sekolah.

Beberapa di antaranya tampak kelelahan. Bahkan ada yang melepas sepatu saat berjalan di bawah terik matahari. Pemandangan itu mengingatkannya pada masa kecil.

“Saya ingat waktu kecil dulu juga jalan kaki pulang sekolah bersama teman-teman,” kata Amru Abdullah.

Namun ada satu perbedaan yang membuatnya khawatir. Jika dahulu ia berjalan di jalan kampung yang relatif sepi kendaraan, anak-anak Tanjungsengkuang harus melintasi ruas jalan sempit yang dipadati lalu-lalang kendaraan bermotor dan kendaraan industri. Kekhawatiran itulah yang kemudian dibawanya ke kantor.

“Sampai di kantor saya kumpulkan para kanit. Kami diskusikan persoalan ini dan akhirnya muncul solusi. Kami harus mengorbankan satu mobil polsek untuk membantu mengantar anak-anak pulang,” ujarnya.

Pilihan kemudian jatuh pada kendaraan Binmas karena kapasitasnya lebih besar dibandingkan mobil patroli sehingga dapat menampung lebih banyak siswa. Sejak saat itu, Si Amru mulai beroperasi.

Bagi Amru Abdullah, keberhasilan program Si Amru bukan semata soal mengantar anak sekolah sampai rumah. Lebih dari itu, program tersebut menjadi jembatan yang mendekatkan polisi dengan masyarakat.

Ia pun merasakan perubahan sikap warga yang kini lebih terbuka untuk berdiskusi dan melaporkan persoalan di lingkungan mereka. Menurutnya, tugas polisi tidak hanya menangani tindak kriminal, tetapi juga menghadirkan rasa aman dan nyaman di tengah masyarakat.

“Fungsi kita membuat masyarakat merasa aman, nyaman, dan tenteram. Dengan kegiatan seperti Si Amru, masyarakat mulai terbuka kepada kami dan tidak segan berdiskusi jika ada kendala,” katanya.

Upaya tersebut bahkan mendapat pengakuan di tingkat nasional. Program Si Amru memperoleh penghargaan dari Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) sebagai salah satu program terobosan terbaik yang dijalankan jajaran Polda Kepulauan Riau melalui Polsek Batuampar.

Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat perkotaan, Si Amru hadir dengan cara yang sederhana, menyediakan satu mobil, sedikit waktu, dan kepedulian.

Namun bagi anak-anak yang setiap siang menunggu di depan gerbang sekolah, kehadiran mobil itu jauh lebih berarti.

Tawa Anak-Anak di Dalam Mobil Polisi

Tugas menjemput siswa dilakukan secara bergiliran oleh para Bhabinkamtibmas di wilayah Batuampar. Salah satunya adalah Bhabinkamtibmas Tanjungsengkuang, Bripda Iwan. Baginya, kegiatan tersebut bukan sekadar tugas dinas.

Di balik seragam dan tanggung jawab sebagai anggota kepolisian, ada momen-momen sederhana yang justru membuatnya menunggu waktu penjemputan tiba.

“Kadang saya yang tidak sabar menjemput mereka. Ada saja tingkah lucunya setiap hari. Bikin kami tertawa. Yang penting mereka senang dan orangtuanya juga tenang,” ucapnya.

Di dalam mobil, percakapan berlangsung tanpa sekat. Anak-anak bercerita tentang kegiatan sekolah, teman sekelas, hingga hal-hal kecil yang mereka alami sepanjang hari.

Di sela perjalanan, para polisi juga menyisipkan pesan-pesan sederhana tentang pentingnya saling menghormati, menyayangi teman, dan menjauhi perundungan atau bullying. Tidak jarang perjalanan pulang berubah menjadi ruang belajar yang menyenangkan.

Anak-anak juga kerap diajak bermain tebak-tebakan. Siapa yang berhasil menjawab akan mendapatkan hadiah kecil berupa jajanan atau uang saku.

Bagi sebagian orang, hadiah itu mungkin tidak seberapa. Namun bagi anak-anak, perhatian dan kebersamaan tersebut menjadi pengalaman yang membekas.

Ketika Polisi Menjadi Sahabat Anak-Anak

Belakangan, para petugas juga memanfaatkan perjalanan itu untuk memberikan edukasi mengenai penggunaan gawai dan permainan digital. Mereka mengingatkan anak-anak agar tidak menghabiskan waktu pada permainan yang mengandung kekerasan atau konten negatif.

Dengan bahasa sederhana yang mudah dipahami, para polisi berusaha menanamkan nilai-nilai positif kepada para siswa. Cara penyampaiannya pun jauh dari kesan menggurui. Mereka memilih menjadi teman bicara yang dekat dengan dunia anak-anak. Kedekatan itu melahirkan banyak cerita lucu.

Menurut Iwan, siswa kelas satu biasanya malu-malu saat diminta menunjukkan alamat rumah. Mereka sering meminta turun di simpang jalan sebelum melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.bSebaliknya, siswa kelas enam justru memiliki cara lain untuk menikmati perjalanan.

“Kalau anak kelas enam beda lagi. Kadang mereka minta mutar-mutar dulu. Alasannya biar lebih lama naik mobil,” ujarnya sambil tertawa.

Guru Tak Lagi Was-Was

Program Si Amru kini telah berjalan lebih dari satu tahun. Bagi pihak sekolah, kehadiran program tersebut membawa ketenangan tersendiri.

Guru SD Negeri 003 Tanjung Sengkuang, Herry Syafriadi, mengaku merasa lebih tenang karena anak-anak yang belum dijemput orangtua tetap memiliki akses transportasi yang aman untuk pulang.

“Kami pihak sekolah merasa senang. Sudah tidak was-was lagi ketika anak belum sampai ke rumah,” katanya.

Menurut Herry, kondisi lalu lintas di Tanjungsengkuang memang cukup padat karena berada di kawasan industri yang dipenuhi aktivitas kendaraan besar.

Melihat siswa berjalan kaki di pinggir jalan selalu menjadi kekhawatiran tersendiri bagi para guru. Karena itu, kehadiran Si Amru dianggap sangat membantu.

“Walaupun tidak setiap hari karena armada terbatas, semua sekolah tetap bisa merasakan manfaatnya karena dilakukan secara bergiliran,” ujarnya.

Kepanikan yang Berubah Menjadi Rasa Syukur

Di masa-masa awal program berjalan, tidak semua orangtua langsung memahami tujuan kehadiran mobil polisi yang mengantar anak-anak mereka pulang.

Roni, salah seorang wali murid, masih mengingat bagaimana dirinya sempat panik saat melihat anaknya turun dari mobil polisi. Warga sekitar pun ikut keluar rumah karena mengira telah terjadi sesuatu.

Namun kepanikan itu segera berubah menjadi senyum setelah mengetahui maksud sebenarnya. “Awalnya kami semua kaget. Kok anak-anak diantar pakai mobil polisi. Kami panik. Mereka malah turun sambil ketawa-ketawa,” kenangnya.

Setelah mendapatkan penjelasan, para orangtua justru merasa terbantu. Anak-anak pulang dengan aman dan selalu membawa cerita baru dari perjalanan mereka bersama para polisi.

“Ada saja cerita mereka. Kadang dapat hadiah karena menang tebak-tebakan di mobil,” ujarnya.

Menurut Roni, program tersebut layak mendapatkan apresiasi karena memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Ia bukan sekadar kendaraan polisi. Itu adalah tumpangan pulang yang membawa rasa aman, tawa, dan keyakinan bahwa selalu ada orang dewasa yang peduli pada perjalanan mereka menuju rumah.

Kendaraan ini menjadi simbol pendekatan humanis kepolisian kepada masyarakat, khususnya anak-anak, dengan mengedepankan aspek keselamatan pelajar yang harus melintasi jalan-jalan padat kendaraan di kawasan industri Batuampar.

“Semoga program ini bisa terus berjalan dan terus ditingkatkan. Pun Kapolsek atau Kapolresta berganti program ini harus tetap bertahan,” harapnya. (Defrizal)

You may also like