Si Amru, Mobil Polisi yang Menjemput Mimpi Anak-anak Tanjungsengkuang Batam

by Redaksi
program si amru batam

Di dalam mobil, percakapan berlangsung tanpa sekat. Anak-anak bercerita tentang kegiatan sekolah, teman sekelas, hingga hal-hal kecil yang mereka alami sepanjang hari.

Di sela perjalanan, para polisi juga menyisipkan pesan-pesan sederhana tentang pentingnya saling menghormati, menyayangi teman, dan menjauhi perundungan atau bullying. Tidak jarang perjalanan pulang berubah menjadi ruang belajar yang menyenangkan.

Anak-anak juga kerap diajak bermain tebak-tebakan. Siapa yang berhasil menjawab akan mendapatkan hadiah kecil berupa jajanan atau uang saku.

Bagi sebagian orang, hadiah itu mungkin tidak seberapa. Namun bagi anak-anak, perhatian dan kebersamaan tersebut menjadi pengalaman yang membekas.

Ketika Polisi Menjadi Sahabat Anak-Anak

Belakangan, para petugas juga memanfaatkan perjalanan itu untuk memberikan edukasi mengenai penggunaan gawai dan permainan digital. Mereka mengingatkan anak-anak agar tidak menghabiskan waktu pada permainan yang mengandung kekerasan atau konten negatif.

Dengan bahasa sederhana yang mudah dipahami, para polisi berusaha menanamkan nilai-nilai positif kepada para siswa. Cara penyampaiannya pun jauh dari kesan menggurui. Mereka memilih menjadi teman bicara yang dekat dengan dunia anak-anak. Kedekatan itu melahirkan banyak cerita lucu.

Menurut Iwan, siswa kelas satu biasanya malu-malu saat diminta menunjukkan alamat rumah. Mereka sering meminta turun di simpang jalan sebelum melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.bSebaliknya, siswa kelas enam justru memiliki cara lain untuk menikmati perjalanan.

“Kalau anak kelas enam beda lagi. Kadang mereka minta mutar-mutar dulu. Alasannya biar lebih lama naik mobil,” ujarnya sambil tertawa.

Guru Tak Lagi Was-Was

Program Si Amru kini telah berjalan lebih dari satu tahun. Bagi pihak sekolah, kehadiran program tersebut membawa ketenangan tersendiri.

Guru SD Negeri 003 Tanjung Sengkuang, Herry Syafriadi, mengaku merasa lebih tenang karena anak-anak yang belum dijemput orangtua tetap memiliki akses transportasi yang aman untuk pulang.

“Kami pihak sekolah merasa senang. Sudah tidak was-was lagi ketika anak belum sampai ke rumah,” katanya.

Menurut Herry, kondisi lalu lintas di Tanjungsengkuang memang cukup padat karena berada di kawasan industri yang dipenuhi aktivitas kendaraan besar.

Melihat siswa berjalan kaki di pinggir jalan selalu menjadi kekhawatiran tersendiri bagi para guru. Karena itu, kehadiran Si Amru dianggap sangat membantu.

“Walaupun tidak setiap hari karena armada terbatas, semua sekolah tetap bisa merasakan manfaatnya karena dilakukan secara bergiliran,” ujarnya.

You may also like