Batamline.com, Batam – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kepulauan Riau (Kepri) ikut menelusuri penyebab kasus meninggalnya Dewi Sartika Sitinjak, pasien yang sebelumnya menjalani operasi ambeien di Rumah Sakit Awal Bros (RSAB) Botania, Batam.
IDI Kepri memilih menunggu hasil pemeriksaan forensik sebelum menyimpulkan penyebab kondisi Dewi yang memburuk hingga akhirnya meninggal dunia. Jenazah Dewi sebelumnya telah dibawa keluarga ke RS Bhayangkara Polda Kepri untuk menjalani pemeriksaan forensik.
Ketua Umum Pengurus Besar IDI Kepri, dr. Yanuarman, mengatakan pihaknya ingin mengetahui secara pasti faktor yang menyebabkan Dewi mengalami kondisi kritis, pingsan hingga koma sebelum meninggal dunia.
“Kami juga ingin tahu apakah itu akibat obatnya atau ada faktor yang lain sehingga pasien pingsan dan koma. Ini menjadi ketakutan buat kita nakes semua untuk menyuntikkan obat-obat suntik,” ujar Yanuarman kepada awak media, Kamis (13/8/2026).
Menurut Yanuarman, hasil pemeriksaan forensik menjadi bagian penting dalam mengungkap penyebab kematian Dewi. IDI Kepri masih menunggu hasil tersebut sebelum menentukan ada atau tidaknya kesalahan dalam penanganan medis.
“Kami menghormati keluarga, polisi hingga menunggu hasil otopsi forensik RS Bhayangkara Polda Kepri untuk menindaklanjuti kematian korban, apakah karena malpraktek atau karena suatu obat atau timbulnya alergi sangat berat atau shock terapi,” katanya.
Selain menunggu hasil pemeriksaan forensik, IDI Kepri berencana meminta penjelasan langsung dari RSAB Botania mengenai kronologi penanganan Dewi sejak menjalani operasi hingga meninggal dunia.
Yanuarman mengatakan IDI belum menerima laporan resmi dari pihak rumah sakit. Namun, organisasi profesi tersebut telah mengetahui kasus tersebut dan akan mendata tenaga medis yang terlibat dalam penanganan Dewi.
“Kita akan mendengarkan secara langsung dari pihak RSAB kronologis kejadian itu di kantor IDI Kepri karena masyarakat ingin tahu perkembangannya. Dan kita akan mendata siapa-siapa tenaga medis yang merawat pasien tersebut,” ujarnya.
IDI Kepri juga menyatakan kesiapan untuk memberikan keterangan apabila diminta kepolisian dalam proses penyelidikan. Pemeriksaan tersebut nantinya dapat dilakukan melalui Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK).
“Mau tidak mau kami IDI melalui MKEK akan dipanggil pihak Poltabes untuk saksi dalam kasus ini,” katanya.
Apabila hasil pemeriksaan menemukan adanya dugaan kelalaian tenaga medis, Yanuarman mengatakan IDI melalui MKEK akan memprosesnya sesuai ketentuan profesi.
Sanksi, kata dia, akan disesuaikan dengan tingkat pelanggaran yang ditemukan. “Jika masalahnya ringan teguran tertulis, kalau ringan di-sckorsing enam bulan dan kalau berat ditarik izinnya,” katanya.
Hasil pemeriksaan dan rekomendasi IDI nantinya dapat disampaikan kepada Kementerian Kesehatan maupun pemerintah sesuai kewenangan.
Penelusuran juga tidak hanya akan berfokus pada tenaga medis. Jika ditemukan adanya dugaan kelalaian dari pihak lain, pemeriksaan dapat dilakukan sesuai profesi dan kewenangannya.
“Hasil ini nanti kita rekomendasi ke Kemenkes atau ke pemerintah. Jika nanti ada ditemukan kelalaian yang terlibat bukan hanya paramedis, ada bagian administrasi, apoteker atau apotek sesuai profesinya,” ujarnya.
IDI Kepri berharap pemeriksaan dapat mengungkap penyebab pasti meninggalnya Dewi Sartika. Langkah tersebut dinilai penting agar perkara tidak berkembang menjadi spekulasi dan dapat memberikan kepastian bagi keluarga maupun tenaga kesehatan.
Dalam perkara ini, penyebab pasti kematian Dewi serta ada atau tidaknya kesalahan dalam penanganan medis masih menunggu hasil pemeriksaan forensik dan proses penyelidikan lebih lanjut. (Pye)