Batamline.com, Washington, DC – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, membuat pernyataan kontroversial dengan menyeret nama Raja Charles III ke dalam ketegangan geopolitik antara AS dan Iran. Di sela-sela kunjungan kenegaraan Raja Charles ke AS, Trump mengklaim bahwa Raja Inggris itu kemungkinan akan memihak Washington.
Trump juga sesumbar menyebut, sang raja juga akan mengikuti saran yang diberikan berikan terkait Ukraina, sambil menyebut Raja Charles sebagai raja yang hebat dan teman baiknya.
Sebelumnya, dalam pidato jamuan kenegaraan di Gedung Putih, Trump dengan berani mengklaim bahwa Raja Charles sepakat dengannya untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir.
“Charles setuju dengan saya, bahkan lebih dari saya sendiri,” kata Trump, seperti yang diberitakan oleh The Guardian.
Pernyataan Trump ini langsung menjadi sorotan karena dinilai melanggar protokol diplomatik. Sebagai kepala negara, Raja Charles diharapkan bersikap netral dan tidak terlibat dalam politik praktis. The Mirror bahkan menyebut pernyataan ini dapat menyebabkan “kegugupan” di kalangan staf istana karena pandangan pribadi raja diumbar ke publik.
Menanggapi klaim kontroversial tersebut, Istana Buckingham akhirnya buka suara. Seperti yang dikutip oleh Reuters, seorang juru bicara Istana Buckingham menyatakan,”Sang Raja secara alami memperhatikan posisi pemerintahannya yang sudah lama terkenal mengenai pencegahan proliferasi nuklir.”.
Pernyataan yang sama juga dikutip oleh HuffPost UK dan The Express yang menyebutnya sebagai “pernyataan singkat” yang sangat hati-hati. Sementara itu, BBC melaporkan bahwa dalam pidatonya di hadapan Kongres AS, Raja Charles justru lebih memilih untuk menyoroti pentingnya aliansi seperti NATO, tanpa menyebut Iran sama sekali.