Home » Dugaan Intimidasi di Playgroup Djuwita Batam Jadi Perhatian, Kedua Pihak Saling Klarifikasi

Dugaan Intimidasi di Playgroup Djuwita Batam Jadi Perhatian, Kedua Pihak Saling Klarifikasi

by Redaksi
Play Group Djuwita Batam

Batamline.com, Batam – Peristiwa yang terjadi di lingkungan Play Group Djuwita Batam pada Selasa (21/4/2026) siang masih menjadi perhatian, setelah muncul laporan dari pihak sekolah terkait dugaan intimidasi oleh seorang wali murid. Di sisi lain, wali murid yang bersangkutan juga menyampaikan bantahan serta versinya atas kejadian tersebut.

Insiden itu berlangsung sekitar pukul 13.45 WIB, saat seorang wali murid berinisial S (41) datang ke sekolah bersama sejumlah orang. Kehadiran rombongan tersebut disebut terjadi pada jam istirahat, dan sebagian berada di area sekolah.

Kepala sekolah Play Group Djuwita Batam, Lidia, menjelaskan bahwa awalnya pihak sekolah mengira kedatangan wali murid tersebut untuk membahas kondisi anak. “Wali murid datang saat jam istirahat dan bersikeras bertemu wali kelas. Saya diminta ikut berada di ruangan,” ujarnya, Kamis (30/6/2026).

Namun, dalam pertemuan tersebut, situasi disebut berubah menjadi tegang. Pihak sekolah menilai terjadi tekanan secara verbal terhadap tenaga pengajar.

“Saat guru memberikan penjelasan, pembicaraan kerap dipotong. Situasi memanas ketika beberapa orang tak dikenal masuk ke ruang kantor sambil membawa kamera,” kata Lidia.

Ia menambahkan, dalam suasana tersebut, sejumlah guru mengaku menerima perkataan dengan nada tinggi. “Ada intimidasi verbal terhadap tiga guru dengan kata-kata yang tidak pantas,” ujarnya.

Pihak sekolah juga menyebut adanya permintaan nomor telepon guru, yang kemudian diikuti pesan berisi data pribadi, sehingga menimbulkan kekhawatiran. “Hal itu membuat guru merasa tidak nyaman dan khawatir,” ungkapnya.
Lidia turut menyampaikan adanya dugaan tindakan yang dinilai tidak pantas terhadap salah satu guru.

“Salah satu guru dipaksa makan dengan cara dipegang bagian rahangnya,” katanya.

Pasca kejadian, dua dari tiga guru dilaporkan mengalami trauma dan belum kembali beraktivitas seperti biasa. Sekolah menyatakan telah melaporkan peristiwa ini ke pihak kepolisian serta melakukan pemeriksaan internal.
Di sisi lain, pihak sekolah membantah adanya tudingan kekerasan terhadap anak. “Tidak ada anak yang mengalami lebam. Kondisinya baik. Tudingan guru memaksa anak makan juga tidak benar,” tegas Lidia.

Ia menjelaskan, sekolah memiliki prosedur pendampingan orang tua atau babysitter serta sistem pengawasan melalui kamera pengawas.

“Semua ruang kelas dilengkapi CCTV. Jika orang tua ingin melihat rekaman juga diperbolehkan. Tapi saat itu wali murid hanya bertanya ada tidak CCTV, dan kami jawab ada. Tapi mereka tidak ada minta,” jelasnya.

Menurutnya, tudingan yang dialamatkan telah diperiksa secara internal. “Sudah kami cek dan tidak ditemukan seperti yang dituduhkan. Hasilnya juga sudah diserahkan ke pihak berwajib,” ujarnya.

Beda Versi Wali Murid: Bukan Preman, Karyawan

You may also like