Batamline.com, Batam — Upaya menciptakan lingkungan sekolah yang ramah dan saling menghargai terus digalakkan. Melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mandiri Kelompok 40, mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA) menggelar program edukasi bertajuk “Sahabat Inklusi: Belajar Bersama dalam Keberagaman” di Sekolah Monte Sienna Batam pada 27–29 Juli 2026.
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari tersebut diikuti oleh seluruh siswa kelas 7 hingga kelas 12. Program ini dirancang untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai keberagaman, rasa empati, serta menjadi kawan yang suportif bagi rekan yang berkebutuhan khusus maupun karakteristik belajar yang berbeda.
Pemateri kegiatan, Uncok Manigor Jokkas Siahaan menjelaskan bahwa dirinya juga guru disekolah tersebut. Dari hasil observasi yang dilakukannya sendiri, sehingga muncul ide untuk melakukan edukasi lingkungan sekolah tentang pendidikan inklusif.
“Berawal dari observasi, saya melihat disekolah ini harus ada edukasi lingkungan sekolah terkait pendidikan inklusif,” ujar Uncok saat di konfirmasi pada Senin (3/8/2036).
Dirinya juga menegaskan bahwa pendidikan inklusif tidak hanya terbatas pada pembahasan mengenai siswa berkebutuhan khusus, melainkan mencakup bagaimana seluruh elemen siswa mampu menciptakan ekosistem belajar yang saling menghargai.
”Harapan saya, setelah kegiatan ini siswa semakin berani mengajak teman yang berbeda untuk belajar, bermain, dan bertumbuh bersama. Sekolah akan menjadi tempat yang lebih nyaman jika semua merasa diterima,” ungkap Uncok.
Uncok menjelaskan bahwa dampak signifikan tidak langsung terlihat. Namun, dengan program edukasi tersebut beberapa anak terlihat mulai membuka diri dan empati pada anak-anak inklusi. Contohnya terlihat beberapa anak biasa makan sendiri, saat ini sudah ada yang menemani makan.
“Dampak signifikan tidak langsung terlihat. Namun, dengan program edukasi tersebut beberapa anak terlihat mulai membuka diri dan empati pada anak-anak inklusi. Contohnya, anak biasa makan sendiri, saat ini sudah ada yang menemani makan,” ujar Uncok.
Penyampaian materi dilakukan melalui pendekatan yang interaktif dan komunikatif. Berbagai aktivitas disajikan untuk mengasah pemikiran kritis serta kepedulian siswa, seperti ice breaking, diskusi kelompok, think-pair-share, studi kasus, refleksi, permainan edukatif, hingga penyusunan komitmen kelas.
Selama kegiatan, para siswa menunjukkan antusiasme yang tinggi. Mereka tidak hanya aktif menjawab pertanyaan dan mengikuti arahan, tetapi juga terbuka dalam menceritakan pengalaman pribadi terkait persahabatan, perbedaan, hingga momen ketika melihat rekannya mengalami kesulitan belajar atau merasa tersisih.
Dalam sesi studi kasus, peserta diajak mencari solusi konkret saat berhadapan dengan kawan yang belum memahami pelajaran, kerap menyendiri, atau kurang percaya diri saat berdiskusi kelompok. Sebagian besar siswa mengungkapkan keinginan mereka untuk merangkul, mengajak bermain, memberikan dorongan semangat, serta tidak mengejek teman yang sedang kesulitan.
Selain studi kasus, siswa juga diajak berlatih membedakan antara kalimat yang membangun semangat dengan kalimat yang dapat melukai perasaan. Melalui simulasi ini, siswa menyadari bahwa tutur kata memiliki pengaruh besar terhadap rasa percaya diri dan kenyamanan teman di sekolah.
Program ini juga mendapat apresiasi positif dari pihak sekolah. Salah seorang guru pendamping, Ivon menyampaikan bahwa materi yang dibawakan sangat relevan dengan dinamika keseharian para siswa.
”Materinya dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa dan penyampaiannya membuat mereka aktif berdiskusi. Kami melihat siswa berani menyampaikan pendapat dan mulai memahami pentingnya menghargai perbedaan,” kata Ivon.
Dampak positif dari program ini mulai terlihat di lingkungan Sekolah Monte Sienna Batam. Pascapelaksanaan kegiatan, para siswa tampak lebih terbuka dan mau berbaur dengan rekan-rekan yang sebelumnya jarang mereka ajak berinteraksi, tanpa terbatas pada kelompok pertemanan tertentu.
Melalui inisiatif ini, mahasiswa Psikologi UMSurabaya berharap nilai-nilai empati, kepedulian, dan toleransi terus terpelihara di lingkungan sekolah, sehingga setiap siswa merasa diterima, dihargai, serta memiliki kesempatan yang setara untuk berkembang.(*)