Batamine.com, Batam – Tangis pelan seorang bayi berusia empat bulan pecah di antara keramaian dermaga. Dalam gendongan ibunya, ia menjadi bagian dari 217 Warga Negara Indonesia (WNI) dan Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang difasilitasi pulang oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia Johor Bahru. Kepulangan ini bukan sekadar perjalanan lintas negara, melainkan kisah-kisah manusia yang membawa luka, harapan, dan awal baru.
Bayi itu kembali ke tanah air bersama ibunya yang baru menyelesaikan masa tahanan. Di rombongan yang sama, ada seorang anak yang harus pulang tanpa sosok ibu setelah perempuan itu meninggal dunia di Johor Bahru. Sementara itu, tiga PMI lainnya dipulangkan dalam kondisi sakit dan membutuhkan perawatan lanjutan setibanya di Indonesia.

Petugas KJRI memberikan pendampingan khusus bagi mereka yang rentan. Setiap langkah diupayakan agar proses kepulangan berlangsung aman, layak, dan bermartabat.
Pemulangan dilakukan dalam dua tahap. Pada 25 April 2026, sebanyak 150 WNI dan PMI diberangkatkan dari Terminal Feri Melaka menuju Dumai menggunakan kapal MV Indomal Dynasty. Dua hari kemudian, 27 April 2026, sebanyak 62 orang lainnya menyusul melalui Pelabuhan Stulang Laut menuju Batam dengan kapal Citra Legacy 5.
Dari total 217 orang, terdiri atas 123 laki-laki, 90 perempuan, serta empat anak-anak. Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia seperti Nusa Tenggara Barat, Jawa Timur, Sumatera Utara, dan Aceh. Sebagian besar sebelumnya ditempatkan di Depo Tahanan Imigresen (DTI) Machap Umboo dan DTI Pekan Nenas, sementara lainnya berasal dari Tempat Singgah Sementara KJRI Johor Bahru.
Di balik proses administratif yang panjang, ada cerita yang tak sederhana. Sebanyak 122 orang harus dipulangkan menggunakan Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP) karena tidak memiliki dokumen lengkap. Bagi banyak dari mereka, perjalanan pulang menjadi titik balik setelah menghadapi persoalan hukum dan ketidakpastian di negeri orang.
“Kami memahami bahwa di balik angka-angka ini, ada kisah-kisah kemanusiaan yang harus dihormati,” ujar Ketua Satuan Tugas KJRI Johor Bahru, Jati H. Winarto. Ia menegaskan bahwa setiap pemulangan bukan sekadar prosedur, melainkan awal dari proses kembali menata hidup.