Batamline.com, Batam – Tangis Watina Lala tak lagi bisa dibendung saat rombongan Polresta Barelang tiba di rumah kontrakannya di Kavling Senjulung, RT 002/RW 009, Kabil, Kota Batam, Kamis (9/7/2026). Di tengah keterbatasan hidup yang dijalaninya, kedatangan para petugas menjadi secercah harapan bagi putrinya, Helena Tabintang Dakhi, bayi berusia delapan bulan yang menderita hidrosefalus.
Di pelukan sang ibu, Helena sesekali merengek pelan. Kepala mungilnya tampak membesar akibat penumpukan cairan di otak yang membutuhkan penanganan medis secara berkelanjutan.
Watina mengaku mengetahui kondisi putrinya sejak Helena baru berusia satu minggu. Sejak itu pula ia ingin membawa buah hatinya menjalani pengobatan, tetapi keterbatasan ekonomi membuat harapan tersebut terus tertunda.
“Saya tahu kepala anak saya ada kelainan saat usia satu minggu,” tutur Watina dengan mata berkaca-kaca.
Beban hidupnya semakin berat setelah sang suami, Saderakhi Dakhi, meninggalkan rumah sekitar sepekan lalu. Di saat bersamaan, telepon genggam yang biasa digunakan untuk berkomunikasi juga rusak.
“Belum pulang sampai sekarang. Kemarin handphone sempat dibantingnya,” ujarnya lirih.
Seorang diri, Watina harus mengasuh tiga anak, termasuk Helena yang membutuhkan perhatian dan perawatan khusus setiap hari. Di tengah tekanan ekonomi dan minimnya dukungan, ia mengaku pernah berada di titik terendah dalam hidupnya.
Ia bahkan sempat terlintas keinginan untuk meninggalkan bayinya. Namun niat itu diurungkan setelah melihat pemberitaan mengenai kasus pembuangan bayi di media sosial.
“Saya sadar dan sedih setelah melihat Facebook. Anak orang yang dibuang saja saya sedih. Jadi saya tidak berani,” ungkapnya.
Selama ini, kebutuhan Helena, mulai dari susu, popok, bubur bayi hingga stroller, sebagian besar berasal dari bantuan para dermawan yang tergerak membantu.
Dalam kunjungan tersebut, tim kesehatan Polresta Barelang tidak hanya menyerahkan bantuan kebutuhan bayi, tetapi juga memeriksa kondisi kesehatan Helena sekaligus memastikan akses pengobatannya.
Kasi Dokkes Polresta Barelang, Iptu dr. Syarifah, mengatakan Helena akan segera dirujuk untuk mendapatkan pelayanan kesehatan melalui fasilitas yang telah tersedia.
“Ini nanti dibawa ke Puskesmas Kampung Jabi karena BPJS sudah aktif dan terdaftar di sana,” ujarnya.
Kabar itu menjadi angin segar bagi Watina. Setelah berbulan-bulan dihantui kekhawatiran soal biaya pengobatan, kini putrinya memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan penanganan medis.
Di balik geliat pembangunan dan pesatnya pertumbuhan Kota Batam, kisah Helena menjadi pengingat bahwa masih ada keluarga yang berjuang keras hanya untuk memperoleh akses kesehatan yang layak.
Di usia yang baru menginjak delapan bulan, Helena belum mengenal hiruk-pikuk kota ataupun megahnya pembangunan. Yang ia butuhkan hanyalah kesempatan untuk tumbuh sehat.
Sementara bagi Watina, harapannya sederhana. Ia ingin melihat putrinya sembuh, tersenyum, dan menikmati masa kecil seperti anak-anak lainnya.